Rabu, 15 Juni 2011

Budaya

Tentunya Anda sudah
mengenal arti budaya,
bukan? Menurut
Koentjoroningrat, budaya
merupakan sebuah hasil
cipta, karsa, dan rasa
manusia. Lantas, apa
yang dimaksud dengan
budaya lokal?
Indonesia merupakan
sebuah negara yang
terdiri atas berbagai suku
bangsa. Keragaman suku
bangsa ini tentunya dapat
menciptakan budaya yang
beragam. Nah,
kebudayaan yang tumbuh
dan berkembang dalam
salah satu suku bangsa
tersebut dapat dinamakan
budaya lokal. Jadi, budaya
lokal merupakan sebuah
hasil cipta, karsa, dan rasa
yang tumbuh dan
berkembang di dalam
suku bangsa yang ada di
daerah tersebut.
Keragaman Budaya
Lokal Indonesia
Pabarit
Pabarit merupakan
sebuah budaya lokal yang
berada di daerah Subang,
Jawa Barat. Pabarit adalah
sebuah tradisi yang
dilakukan untuk menolak
bala. Hal ini dilakukan agar
terhindar dari setiap
marabahaya yang terjadi.
Tradisi ini dilakukan oleh
masyarakat Subang pada
pukul 18.00 WIB di
perempatan jalan.
Ketika acara ini dimulai,
masyarakat sudah
mengetahui hal yang
harus dilakukanya. Mereka
mengumpulkan pakaian
bekas sebagai simbol
keburukan dari manusia.
Pakaian bekas tersebut
dikumpulkan dalam
sebuah alat yang
dinamakan sundung (alat
yang berbentuk segitiga
dan terbuat dari bambu)
untuk kemudian disimpan
di perempatan jalan.
Sesajen pun dibenahi
dengan baik sebelum
ketua kampung mulai
berdoa. Jika menyan
sudah dibakar, sang ketua
kampung pun berdoa
kepada Sang Pencipta.
Tentunya maksud utama
dalam acara tersebut
adalah agar terhindar dari
segala marabahaya. Acara
pabarit ditutup dengan
pembakaran sundung
beserta pakaian bekas.
Tarian Hudoq
Banyak cara yang
dilakukan oleh setiap
masyarakat untuk
meminta keselamatan dan
kebahagian di dunia dan
akhirat. Nah, salah satu
cara yang dilakukan oleh
masyarakat Kalimantan
adalah menari. Tarian ini
dinamakan dengan tarian
hudoq.
Sebuah filosofi yang
terpatri dalam masyarakat
kalimantan, khususnya
suku Dayak, yaitu harus
selalu berlindung kepada
sang penguasa dewa,
Silau Apau Lagaan. Karena
merupakan penguasa
yang tertinggi dari hudoq
yang ada di dunia ini, Silau
Apau Lagaan diberi gelar
Buang Atut Uhut Mebang.
Agar dapat memberi
kesejahteraan bagi
masyarakat di dunia ini,
Buang Atut Uhut Mebang
ini mengutus beberapa
dewa ke dunia ini. Salah
satu hudoq yang diutus
ini adalah sang pembawa
rezeki bagi pertumbuhan
tanaman beserta
pembasmi hama
tanaman. Nama dewa
yang ditugaskan ini adalah
Jelifah Tao Hudoq yang
berubah wujud, mulai
dari wajah, pakaian,
bahkan bentuk badannya.
Teater dulmuluk
Untuk terlepas dari sebuah
rutinitas adakalanya kita
harus mencari sebuah
hiburan. Banyak hal yang
dapat dilakukan untuk
menghibur diri. Salah satu
alat hiburan masyarakat
Sumatera Selatan adalah
menyaksikan Teater
Dulmuluk.
Teater dulmuluk
merupakan seni tradisi
masyarakat Sumatra
Selatan yang berkembang
sejak 1919. Ketika itu,
pertunjukan teater
Dulmuluk dilakukan di
ruang terbuka. Kisah yang
dibawakannya adalah
cerita Dulmuluk yang
ditulis oleh Raja Ali
Haji.Masyarakat sangat
antusias dalam menonton
pertunjukan ini.
Dalam perkembangannya,
teater dulmuluk pun selalu
membuat modifikasi
dalam pertunjukannya.
Hal ini terbukti dari para
pemainnya yang
menggunakan kostum
dan tata rias yang
beragam. Alat yang
digunakan untuk
mengiringi teater
dulmuluk ini adalah biola,
gendang, gong (tetawak),
dan gendang yang
berukuran besar (jidur).
Upaya pelestarian
budaya lokal
Beberapa contoh
keragaman budaya lokal
di atas kiranya dapat
menyadarkan kita tentang
pentingnya
melestarikannya. Budaya
lokal merupakan sebuah
benteng pertahanan bagi
kita terhadap gempuran
kebudayaan asing. Sudah
saatnya untuk
melestarikannya agar nilai-
nilai budaya bangsa tidak
terus menerus melemah.
Bagaimana cara kita
melestarikan budaya
bangsa? Adakalanya kita
sering bahkan selalu
mengabaikan tradisi yang
berasal dari nenek
moyang. Sering kita
mendengar bahwa jika
kita selalu
mempertahankan tradisi,
pikirannya disebut
ortodok. Padahal, banyak
nilai-nilai luhur yang dapat
kita ambil dari budaya
lokal bangsa.
Kita tidak akan terjebak lagi
dengan gaya hidup yang
serba modern karena
telah dibentengi nilai-nilai
leluhur. Dalam hal etika,
kita akan merasa terpagari
dengan nilai-nilai yang
telah diterapkan nenek
moyang dalam kehidupan
bermasyarakat. Misalnya,
dari tradisi di atas. Kita
akan selalu mensyukuri
segala hal yang telah
diberikan kepada kita, baik
berupa harta, kekayaan,
umur, bahkan ilmu
pengetahuan.
Nah, itu semua
sebenarnya sudah ada
dan mentradisi dalam
setiap kebudayaan lokal
yang telah diwariskan
kepada kita.Sebagai
masyarakat yang terdiri
atas suku bangsa, sudah
sewajarnya kita bersikap
toleran terhadap
perbedaan.
Perbedaan jangan kita
jadikan sebuah alat
permusuhan. Perbedaan
harus kita jadikan ciri khas
masing-masing daerah.
Hal ini nantinya akan
menjadi nilai-nilai
istimewa bagi kebudayaan
nasional dan menjadi
sebuah kekayaan yang tak
ternilai harganya.
 

Budak tkj © 2008 . Design By: SkinCorner